Tampilkan postingan dengan label Artikel Kesehatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel Kesehatan. Tampilkan semua postingan

Pasien Ini Meninggal karena Kesepian!


Penulis : Dr. Irsyalrusad. Sp.Pd

Sumber : http://health.kompas.com/read/2012/09/20/12501984/Dia.yang.Dapat.Membeli.Semua.Tidak.Kesehatannya

KOMPAS.com - Suatu pagi ketika visite, seorang pasien yang biasanya selalu saya lihat berbaring di tempat tidur dekat jendela ruang perawatan kelas tiga tidak ada lagi di sana. Agak curiga, "mana bapak itu?" Tanya saya kepada perawat yang mendampingi saya -- pasien, seorang lelaki umur sekitar 60 tahun yang menjadi langganan ruang penyakit dalam  beberapa bulan terakhir. 

"Beliau meninggal tadi malam dokter," jawab perawat itu. "Lho, kok bisa?", tanya saya lagi."Tidak tahu juga pastinya dokter. Semalam waktu dari kamar mandi, pasien mengeluh sakit dada dan sesak nafas, cukup lama Ia mengalami itu, kami baru tahu setelah keluarga pasien sebelahnya memberitahu perawat jaga dok. Kemudian kami melapor ke dokter jaga, menurut dokter jaga kemungkinan alm meninggal karena serangan jantung. Sempat perawat jaga membawa ke ruang ICU, tetapi tidak berapa lama di ruang ICU beliau tidak tertolong lagi dokter," ungkap perawat lain menerangkan.

Setelah selesai visite, di ruang perawat waktu mengisi status pasien, bayangan pasien itu seperti mengikuti saya, barangkali karena pasien ini sudah sering dan lama dirawat. Untuk yang terakhir ini saja telah lebih dari satu bulan. Pasien memang sudah berulang kali dirawat dengan keluhan hipertensi dan Insomnia. Biasanya, dalam 1-2 minggu setelah dirawat, hipertensinya mulai terkontrol dan insomnianya juga membaik. Bila keluar rumah sakit, pasien bukan kembali ke rumah, tetapi ke panti. Tidak berapa lama di panti biasanya masuk rumah sakit lagi dengan keluhan yang sama. Keadaan ini berulang dalam satu tahun terakhir sampai pasien meninggal.

Kemudian,  karena sedikit penasaran dengan kematiannya, apalagi secara emosional saya sudah merasa dekat dengan pasien, saya pelajari kembali statusnya. Dari data rekam medis pasien, terutama sebelum meninggal, gambaran rekam jantungnya memang sesuai dengan kematian akibat jantung. Tetapi ada yang menarik saya lihat dari catatan petugas gizi, dalam beberapa hari terakhir ternyata sebagian besar menu makanan yang diberikan kepada Alm tidak dimakannya. 

Melihat ini, saya semakin curiga, jangan-jangan obat-obatan juga tidak dimakan pula.  Lalu,  kepada perawat saya tanyakan, "bagaimana obat-obatan yang diberikan kepadanya, apa ada dimakan?" "Nggak tahu juga dokter. Seperti biasa, obat kami bagikan dan diambil lagi kalau kotak obat itu sudah kosong, kelihatannya dimakan dok,"  perawat itu mencoba menerangkan. 

"Coba kamu lihat lagi laci pasien,! "saya  curiga obat-obat itu tidak dimakannya. Tidak berapa lama, perawat itu kembali dengan satu kantong plastik dengan obat-obatan di dalamnya. Melihat itu........ "Hmmmm, pasien ini meninggal bukan karena serangan jantung, tetapi karena kesepian,"  saya bicara sendiri. Mendengar komentar saya begitu, "kok bisa dokter?" Kata perawat itu lagi. Sebelum saya menjawab, "tapi benar juga dokter, kami lihat bapak itu akhir-akhir ini lain sekali. Beliau seperti tidak bersemangat, sering melamun, pernah kami melihat Ia menangis sesunggukan, dan bila malam kelihatannya tidak bisa tidur, sering beliau minta tambahan obat tidur dokter.  Lalu, dokter, kami tidak pernah melihat keluarganya mengunjungi beliau selama dirawat dokter,"  cerita sang perawat. 

Hmmm, ya, saya juga melihat begitu. Suatu  waktu  saat visite, saya tanyakan mengenai keluarganya, agak lama dan setelah menarik nafas yang dalam, baru ia menjawab; "ada dokter"......, kemudian ia diam lagi,...dan air matanya tampak bergolak. Dan pernah saya lihat pada jam kunjungan pasien, saat pasien lain mendapat perhatian dari keluarganya, Alm menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut, tetapi perasaan saya waktu itu mengatkan, beliau bukan tidur, barangkali menangis menahan kepedihan yang dirasakannya karena  berharap kunjungan anak-istri, keluarga atau saudara-saudaranya.

Lalu, melihat apa yang terjadi pada pasien itu, walaupun serangan jantung dikatakan sebagai penyebab kematiaannya, tetapi di balik serangan jantung yang membunuhnya itu, kesepian, perasaan sendiri, kehilangan cinta-kasih sayang, hubungan-hubungan yang toksis yang dialaminya inilah sebenarnya menurut saya sebagai pencetus penting kematiaanya. 

Seperti diketahui, bahwa kita adalah makhluk sosial yang tidak mungkin hidup sendiri. Orang sakit, seperti pasien di atas sebetulnya sangat membutuhkan dukungan-dukungan baik emosioanal, moral, sosial, dan fisik terutama dari keluarga terdekatnya. Cinta, kasih sayang, empati  yang diberikan kepada mereka pasti akan berpengaruh terhadap perjalanan, prognosis penyakitya, bahkan harapan hidupnya. 

Banyak penelitian yang menunjukkan bahwa hubungan yang sehat, contohnya,  anatara suami-istri sangat berpengaruh terhadap perjalanan penyakit, penyembuhan,  bahkan kematiannya. Angka kematian pasangan suami yang bercerai jauh lebih tinggi daripada pada pasangan yang masih utuh. Kematian salah satu pasangan istri atau suami akan mempengaruhi harapan hidup pasangan lainnya. 

Penelitian terhadap para suami yang mempunyai faktor risiko penyakit jantung, pada kelompok yang merasa mendapatkan cinta, kasih sayang dari istri mereka, angka kematiannya lebih rendah dibandingkan yang tidak. .....Karena itu, jangan biarkan siapapun sendirian, apalagi bila dalam keadaan sakit, agama juga memerintahkan kita untuk mengunjungi orang yang sakit.


Dia yang Dapat Membeli Semua, Tidak Kesehatannya

Penulis : Dr. Irsyalrusad. Sp.Pd

Sumber : http://health.kompas.com/read/2012/09/20/12501984/Dia.yang.Dapat.Membeli.Semua.Tidak.Kesehatannya


KOMPAS.com - Dalam suatu perjalanan ke luar kota, seorang Ibu dengan pakaian mewah ditemani anaknya saya lihat duduk di kelas eksekutif suatu maskapai penerbangan. Sekilas saja, nampak Ibu dan anak ini gemuk sekali. Kursi di kelas eksekutif yang lebih besar dari kursi kelas ekonomi itu kelihatannya tidak cukup memuat ke dua paha dan panggulnya yang sangat besar itu. Di atas pangkuannya juga saya lihat beberapa kantong kertas dari produk makanan terkenal, nampak isinya penuh sekali.

Coba saja lihat di tempat-tempat umum seperti di restoran, food counter, mall, bahkan dalam acara tayangan televisi. Mereka dengan berat badan sangat berlebih mudah kita temui.
Setelah beberapa lama pesawat terbang, dan penumpang diperbolehkan ke kamar kecil. Dengan maksud ingin mengetahui apa yang dilakukan Ibu dan anak ini selama dalam penerbangan, sedikit agak ragu-ragu saya pergi ke kamar kecil yang ada di kelas eksekutif itu. Benar, sesuai dengan dugaan saya, ibu dan anaknya pasti sedang sibuk dengan makanan yang ada di kantong kertas itu. Hmmm, Ibu dan anaknya saya lihat memang sedang asyik melahapnya. Saya yakin, sebelum pramugari menghidangkan makanan untuk penumpang, makanan yang di kantong itu pasti sudah habis.
Melihat Ibu dan anak itu, saya sebetulnya sangat prihatin. Dengan kebiasaan makannya, yang saya lihat sepintas, berat badan yang sudah sangat berlebihan itu pasti akan naik lagi. Bisa saja nanti, suatu saat kalau kebiasaan Ibu itu masih diteruskan, barangkali beliau tidak akan mampu menikmati perjalanan lagi, beliau terpaksa mengurung diri di rumah. Bepergian, berjalan mungkin akan menjadi penderitaan baginya.... Hmmm, mungkin saja nanti, ia masih dapat membeli apa saja untuk dimakannya, tetapi tidak untuk kesehatannya.
Lalu, saya bertanya dalam hati, "apakah Ibu ini tidak sadar bahwa kegemukan, apalagi sangat gemuk itu adalah pencuri umur yang nyata?"..... Dan, kalau umur beliau panjang, menurut penelitian, sepanjang hidupnya akan diwarnai oleh keterbatasan, cacat, "disabilty" dalam berbagai bentuk.  Terbayang juga oleh saya beberapa pasien yang sering berobat, yang dirawat akibat risiko obesitas seperti stroke, diabetes mellitus, hipertensi, gangguan jantung, keganasan, pernafasan, gangguan sendi dan sebagainya
Kemudian, saya juga teringat suatu cerita nyata tentang seorang lelaki kaya yang sangat gemuk, dalam buku "Healthy at 100" yang ditulis Jhon Robbins. Lelaki ini tinggal di California Selatan, kekayaannya menurut Forbes mencapai  5,8 milyar dolar AS. Menurut penulis, inilah lelaki yang sangat kaya, termasuk orang terkaya di dunia yang dapat membeli apapun dengan kekayaannya, namun sangat gemuk, dengan tinggi hanya 167 cm, tetapi berat badan mencapai 200 kg, sehingga kalau ke kamar mandi saja harus dibimbing oleh para pembantunya.
Bila kebanyakan orang sangat kagum bahkan iri dengan kekayaannya, tetapi penulis mengatakan: inilah lelaki malang, yang sangat miskin, bukan dengan kekayaannya, tapi dengan kesehatannya. Dan, waktu pria ini meninggal pada tahun 2004 dalam usia yang relatif masih muda, Los Angeles Timebanyak mengulas tentang kehidupannya, kekayaannya, aktivitasnya dalam menjual, membeli klub sepak bola, basketball, baseball profesional dan bagaimana, ke mana saja kekayaannya digunakan selama ini, tetapi tidak menyinggung sama sekali penderitaan yang dialaminya akibat berat badannya yang sangat gemuk.
Sekitar 10 persen penduduk dewasa di Amerika Serikat mempunyai berat badan sangat gemuk (morbid obesity).  Di Indonesia datanya nampaknya belum ada, tetapi kecenderungan peningkatan itu sangat jelas. Coba saja lihat di tempat-tempat umum seperti di restoran, food counter, mall, bahkan dalam acara tayangan televisi. Mereka dengan berat badan sangat berlebih (very obese, morbid obesity) mudah kita temui. Pengalaman saya di bangsal, ruang perawatan mereka juga sering dirawat dengan bermacam-macam komplikasi yang terjadi relatif dalam usia yang masih muda.
Seseorang menjadi gemuk, atau pun sangat gemuk tidak datang begitu saja, tidak datang seketika. Anda tidak mungkin saat bangun pagi-pagi  tiba-tiba perut anda jadi buncit atau berat badan anda naik 20 kg. Kalau mengalami hal seperti ini, pasti anda akan berteriak, "wooow, gila, ada apa ini?".....Anda akan ketakutan, anda mungkin segera konsultasi ke dokter. Tetapi, itu, berat badan meningkat sedikit demi sedikit, anda mungkin tidak merasakannya, bahkan anda merasa enjoy saja dengan perubahan seperti itu.
Jadi, sebelum Anda mengalami itu, sering-seringlah berkaca, lihat, amati perut Anda, sebaiknya dari samping. Bila perut Anda jauh menonjol dari dada, mungkin saatnya Anda perlu merenungkan kembali gaya hidup, pola makan Anda. Jangan menunggu, Anda masih dapat membeli semuanya, tetapi tidak untuk kesehatan Anda!